Senin, 22 Desember 2008

advantadge grafity

Teori jendela pecah. Kriminolog James Q. Wilson dan George Kelling menelorkan teori broken windows, jendela pecah, untuk menerangkan asal muasal epidemi tindak kejahatan. Paparannya yang menarik dap[at anda baca di bukunya Malcolm Gladwell, The Tipping Point : How Little Things Can Make a Big Difference (2000).

Keduanya berpendapat, kriminalitas merupakan akibat tidak terelakkan dari ketidakteraturan. Jika jendela sebuah rumah pecah namun dibiarkan, siapa pun yang lewat terdorong menyimpulkan pastilah di lingkungan tersebut tidak ada yang peduli. Atau rumah itu kosong.

Dalam waktu singkat akan ada lagi jendelanya yang pecah, dan belakangan berkembang anarki yang menyebar ke sekitar tempat itu. Di sebuah kota, awal yang remeh seperti corat-coret grafiti, ketidakteraturan, dan pemalakan, semua setara dengan jendela pecah, ajakan untuk melakukan kejahatan yang lebih serius lagi. Buku The Tipping Point tadi bahkan menyimpulkan, “bahwa orang yang setiap hari lewat di jalanan bersih atau naik kereta api yang serba rapi cenderung akan menjadi orang lebih baik ketimbang bila mereka setiap hari lewat di jalanan penuh sampah dan naik kereta atau bus kota penuh corat-coret.”

Itukah pula ancaman besar tindak kejahatan yang akan marak dan meruyak di Wonogiri ? Karena lanskap kota Wonogiri yang kurang elok itu kini terasa makin sesak dengan munculnya corat-coret grafiti. Mari kita telusuri panorama hasil corat-coret artis jalanan yang tidak berani memunculkan jati dirinya secara terus terang itu :

Photobucket

KEKACAUAN VISUAL. Grafiti di atas tergores pada tembok bangunan rumah di Jl. Kabupaten. Apa makna pesan di balik corat-coret itu ? Sulit difahami. Tetapi karya “seni lukis jalanan” itu berperan menambah kekacauan visual bagi warga kota kecil ini. Dan adakah pengaruh buruknya bagi psike mereka ?


Photobucket

TANGGA MERAIH PENGAKUAN ? Penjual tangga bambu sedang melintas di jalan sekitar komplek SMA Negeri 1 Wonogiri. Adakah para siswa sekolah ini pula yang membuat grafiti di dekat sekolah mereka tersebut ? Kalau benar, apakah aksi mereka itu sebagai akibat lingkungan sekolah mereka yang justru tidak kondusif untuk menyalurkan energi “bomber” mereka yang meluap-luap ? Mengapa mereka memilih “jalan gelap” untuk meniti tangga guna meraih pengakuan, bahkan kemashuran ?

Photobucket


Photobucket

PARADOKS MENCARI CINTA. Para “bomber” atau pelukis grafiti itu suka menyembunyikan jati dirinya. Dapat dimaklumi, mereka itu dapat dianggap telah melakukan tindakan yang tidak terpuji. Tetapi lihatlah, mereka mempromosikan diri agar dijadikan pacar, seperti tertuang dalam karyanya (atas, di menara waduk Gajah Mungkur) dan di daerah Sanggrahan, pada tembok Jl. Dr Wahidin, timur SDN Wonogiri 1. Bagaimana seseorang dapat mengenal mereka, lalu bisa menjadi pacar mereka, kalau para bomber itu selalu menyembunyikan jati dirinya ?

Photobucket

OPERASI RAHASIA. Para “bomber” itu kiranya orang-orang malam. Mereka beraksi ketika malam tiba. Lihatlah, karya di atas itu tergores pada tembok jalan di Jl. Pelem 3, persis di utara markas Kodim 0728 Wonogiri. Operasi rahasia mereka sukses, bahkan di dekat markas tentara !


Photobucket

AKTORNYA ITU-ITU SAJA ? Dari pelbagai motif grafiti yang ada di Wonogiri segera nampak bahwa karya-karya tersebut dilakukan oleh “pe-bomber” yang sama. Karya di atas terletak di pintu garasi sebuah rumah di Jl. Kartini.

Photobucket

APA INTI PESAN MEREKA ? Grafiti ini terdapat di tembok rumah/toko Tukang Gigi Jaya Leo di dekat Ponten. Tepatnya di sebelah selatan Bank Jawa Tengah. Apakah Anda bisa meraba arah pesan dari grafiti satu ini ?


Photobucket

KARYA SENI YANG HILANG. Tembok di dekat garasi bis Giri Indah, Jl. Kartini, semula nampak meriah dengan grafiti. Kemudian cat hitam telah membuat karyanya yang dikerjakan sang “bomber” alias seniman jalanan dengan sepenuh hati dan mungkin dalam hitungan beberapa malam itu, akhirnya bernasib lenyap dari pemandangan.


Langka kanal berekspresi ? Mengapa tiba-tiba grafiti marak dan apa kira-kira akibat jangka panjangnya bagi Wonogiri ? Ada dugaan, generasi muda di Wonogiri selama ini merasakan kesulitan untuk berekspresi secara otentik dalam mengaktualisasikan potensi mereka.

Sekadar contoh : secara rutin berlangsung di Wonogiri pelbagai acara budaya kolosal gagasan Pemkab. Seperti Kirab 1000 Keris, Kirab Umbul-Umbul dan Kirab Benda-Benda Pusaka yang melibatkan ribuan pelajar. Tetapi sangat jelas, kita semua tahu, aktivitas semacam itu bukan acara “mau” otentik mereka. Aktivitas semacam itu bukan otentik “milik dunia” mereka. Tetapi mereka harus ikut karena perintah guru, guna membawa nama sekolahnya.

Mungkinkah kesumpekan semacam itu yang mendorong mereka bergerilya, berekspresi, mencoret-coret tembok kotanya ? Untuk mengkritisi beragam kegiatan seremonial yang disukai pembesar Pemkab Wonogiri dan potret aktivitas kalangan pelajar di Wonogiri, saya pernah berkomentar dengan menulis surat pembaca seperti tertuang di bawah ini :


Perpustakaan di Wonogiri
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, Rabu, 8 November 2006

Sekolah masa kini bukan lagi ibarat Matahari dan para murid sebagai planet-planet yang mengelilinginya. Para guru dan orang tua juga bukan satu-satunya sumber bagi mereka untuk memperoleh pengetahuan dan kearifan. Wawasan ini menyelinap ketika menyaksikan pelajar Wonogiri pada hari pertama masuk sekolah sesudah Liburan Lebaran. Hari itu, sesudah ritus halal bihalal, jam belajar ditiadakan, dan murid-murid pun diijinkan pulang.

Sebagian dari mereka berbondong-bondong menyerbu pasar swalayan. Ada juga yang nongkrong-nongkrong di pasar. Setahu saya untuk kota sebesar Jakarta pada setiap kompleks pertokoan telah dipasang pesan yang melarang pelajar berseragam untuk keluyuran di pusat-pusat perbelanjaan tersebut. Saya tidak tahu mengapa larangan yang sama tidak diterapkan di Wonogiri.

Yang kiranya boleh saya menduga, mereka menyerbu pasar swalayan karena sebagai satu-satunya tempat yang menarik. Mereka bisa melihat barang-barang bagus, sekaligus bisa melambungkan impian untuk bisa memilikinya. Di tempat berpendingin itu impian-impian mereka memperoleh rumah yang nyaman.

Celakanya, hanya impian sebagai konsumen. Sementara impian sebagai kreator, produsen, mungkin tidak memiliki tempat untuk subur berkembang. Baik di kelas, di rumah, di ruang-ruang perpustakaan sekolah atau umum, juga tidak bergejolak di lapangan-lapangan olah raga. Mereka tidak betah di sana.

Apalagi fasilitas umum untuk mengembangkan intelektualitas, bakat seni dan bakat olahraga di kota kecil Wonogiri, nampak belum mendapat perhatian yang berwenang secara memadai. Tidak hanya menyangkut bangunan fisiknya, tetapi terutama muatan kegiatannya yang mampu menarik generasi muda. Perpustakaan umum Wonogiri hadir dengan ruangan seadanya, lebih banyak lengang karena lokasinya dipencilkan, berada di luar lalu lintas ramai para pelajar.

Wonogiri konon tinggal satu-satunya kabupaten di Jateng yang tidak memiliki mobil/perpustakaan keliling. Warung Internet satu-satu berguguran. Sementara aktivitas anak muda justru cenderung dikooptasi birokrat hanya sebagai barisan pion guna meraih prestasi-prestasi semu yang tidak ada nilai-nilai edukasinya yang tinggi.

UNITY IN GRAFITY

ANIMATION ~ Palembang Graffiti Community ~

Komunitas graffiti yang satu ini terbentuk pada pertengahan tahun 2005 yang lalu. Nama Animation dipilih karena semua anggotanya, yang biasa disebut crew, merupakan pecinta animasi. Animation crew terdiri dari lima anak nongkrong yang sama-sama hobi gambar, mereka adalah: Ricki ~RCV~ (mahasiswa Tri Sakti), Rizki ~R2P~ (mahasiswa Palcomtech), Beni ~Mr. B~ (mahasiswa UNPAJ), Aulia ~ARF~ (mahasiswa UNSRI), dan Erick ~UJU~ (mahasiswa UI).

Animation juga sering ikutan lomba graffiti loh! Berbagai lomba yang pernah mereka ikuti, diantaranya lomba graffiti di SMA Farmasi Pembina (2006) meraih juara 2, Let’s Dance Competition ~Global TV~ (2006) meraih juara 1, dan Djarum Black Competition (2007) meraih juara 1, 2, dan 3 sekaligus. Hebat kan prestasi mereka! Selain kompetisi yang bersifat legal tadi, ternyata Animation juga pernah mengadakan illegal battle melawan tim graffiti Partice (Palembang Art Terrorist). Gila nggak tuh?! Pengalaman yang paling menyenangkan bagi Animation yaitu ketika mereka berhasil menjadi pemenang dalam ajang Let’s Dance Competition. Dalam kesempatan itu, mereka berhadapan dengan Flash Squad, tim graffiti asal Lampung, di grand final.

Menjadi graffiti artist cukup beresiko, ada satu pengalaman seru yang pernah dialami oleh Animation. Pada malam pergantian tahun 2007, saat Animation melakukan aksi coret-mencoret tembok di suatu tempat. Mereka kepergok oleh orang yang bertugas menjaga tempat itu. Otomatis, para Animation crew segera kabur meninggalkan coretan graffiti mereka yang belum kelar. Setelah merasa aman, mereka kembali ke tempat itu dan menyelesaikan coretan graffiti mereka. Duh, nggak kapok nih!

Adapun harapan dari Animation crew untuk pemerintah kota Palembang yaitu supaya komunitas graffiti seperti Animation ini diberi wadah untuk menyalurkan bakat dan kreatifitas mereka. Selain itu, mereka juga berharap agar masyarakat tidak terus-terusan menilai bahwa graffiti artist itu sebagai perusak, melainkan sebagai seniman jalanan (street artist). (Ikkyu)




Kamis, 18 Desember 2008

Graffiti-Graffiti Paling Menarik di Dunia
















graffiti modern


Grafiti pada zaman modern
Grafiti pada Tembok Pemisah Israel di Israel-Palestina. Adanya kelas-kelas sosial yang terpisah terlalu jauh menimbulkan kesulitan bagi masyarakat golongan tertentu untuk mengekspresikan kegiatan seninya. Akibatnya beberapa individu menggunakan sarana yang hampir tersedia di seluruh kota, yaitu dinding. Pendidikan kesenian yang kurang menyebabkan objek yang sering muncul di grafiti berupa tulisan-tulisan atau sandi yang hanya dipahami golongan tertentu. Biasanya karya ini menunjukkan ketidak puasan terhadap keadaan sosial yang mereka alami. Meskipun grafiti pada umumnya bersifat merusak dan menyebabkan tingginya biaya pemeliharaan kebersihan kota, namun grafiti tetap merupakan ekspresi seni yang harus dihargai. Ada banyak sekali seniman terkenal yang mengawali karirnya dari kegiatan grafiti.Fungsi grafiti
• Bahasa rahasia kelompok tertentu. • Sarana ekspresi ketidak puasan terhadap keadaan sosial. • Sarana pemberontakan. • Sarana ekspresi ketakutan terhadap kondisi politik dan sosial. Pada perkembangannya, grafiti di sekitar tahun 70-an di Amerika dan Eropa akhirnya merambah ke wilayah urban sebagai jati diri kelompok yang menjamur di perkotaan. Karena citranya yang kurang bagus, grafiti telanjur menjadi momok bagi keamanan kota. Alasannya adalah karena dianggap memprovokasi perang antar kelompok atau gang. Selain dilakukan di tembok kosong, grafiti pun sering dibuat di dinding kereta api bawah tanah. Di Amerika Serikat sendiri, setiap negara bagian sudah memiliki peraturan sendiri untuk meredam grafiti. San Diego, California, New York telah memiliki undang-undang yang menetapkan bahwa grafiti adalah kegiatan ilegal. Untuk mengidentifikasi pola pembuatannya, grafiti pun dibagi menjadi dua jenis.Gang grafiti
Yaitu grafiti yang berfungsi sebagai identifikasi daerah kekuasaan lewat tulisan nama gang, gang gabungan, para anggota gang, atau tulisan tentang apa yang terjadi di dalam gang itu.Tagging graffiti
Yaitu jenis graffiti yang sering dipakai untuk ketenaran seseorang atau kelompok. Semakin banyak graffiti jenis ini bertebaran, maka makin terkenallah nama pembuatnya. Karena itu grafiti jenis ini memerlukan tagging atau tanda tangan dari pembuat atau bomber-nya. Semacam tanggung jawab karya.

Sejarah graffiti


Sejarah Graffiti
Grafiti
Grafiti (juga dieja grafitty atau grafitti) adalah kegiatan seni rupa yang menggunakan komposisi warna, garis, bentuk dan volume untuk menuliskan kalimat tertentu di atas dinding. Alat yang digunakan biasanya cat semprot kaleng.Sejarah
Grafiti di Pompeii. Grafiti ini mengandung tulisan rakyat yang menggunakan bahasa Latin Rakyat dan bukan bahasa Latin Klasik. Kebiasaan melukis di dinding bermula dari manusia primitif sebagai cara mengkomunikasikan perburuan. Pada masa ini, grafitty digunakan sebagai sarana mistisme dan spiritual untuk membangkitkan semangat berburu. Perkembangan kesenian di zaman Mesir kuno juga memperlihatkan aktivitas melukis di dinding-dinding piramida. Lukisan ini mengkomunikasikan alam lain yang ditemui seorang pharaoh (Firaun) setelah dimumikan. Kegiatan grafiti sebagai sarana menunjukkan ketidak puasan baru dimulai pada zaman Romawi dengan bukti adanya lukisan sindiran terhadap pemerintahan di dinding-dinding bangunan. Lukisan ini ditemukan di reruntuhan kota Pompeii. Sementara di Roma sendiri dipakai sebagai alat propaganda untuk mendiskreditkan pemeluk kristen yang pada zaman itu dilarang kaisar.